Omset PKL dan Lesehan di Blora Menurun, Aparat Gabungan bubarkan Kerumunan

BLORA – Pemerintah Kabupaten Blora mulai hari ini memberlakukan PPKM Darurat Jawa-Bali untuk menekan penyebaran covid-19. Berdasarkan Surat Edaran (SE) Bupati Blora tertanggal 03 Juli 2021 memutuskan beberapa tempat atau fasilitas umum dilarang untuk melakukan aktivitas, seperti di alun-alun, GOR, Kridosono, taman dan sejenisnya ditutup sementara.

Untuk menindaklanjuti SE Bupati Blora dan program dari pemerintah pusat ini, sejumlah aparat gabungan dari TNI, Polri, Satpol PP dan BPBD melakukan penyemprotan desinfektan dan membubarkan kerumunan. Sayangnya, kebijakan ini dinilai hanya menekan masyarakat kecil, terutama soal perekonomian.

Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Kridosono, Trimo Jaya, mengungkapkan kurang setuju adanya PPKM Darurat ini. Bahkan, selama pandemi covid-19 ini dirinya belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Kurang begitu setuju, soalnya (hasil) penjualan itu menurun drastis. Berkurang sekitar 80 persen dari omset. Bantuan pemerintah daerah belum ada mas, dari banpres masuk juga hanya mereka yang tidak punya tanggungan hutang, yang punya tidak dapat,” ungkap Trimo, Minggu (04/07/2021).

Muncul Persoalan Baru ?

Setiap harinya, dia mulai berjualan di lapangan Kridosono sekitar pukul 16.00 WIB hingga larut malam. Dirinya mengaku pendapatannya mengalami penurunan drastis.

“Hari ini minus, hanya dapat omset 170 ribu, belum 2 karyawan dan belum juga modal mas. Untuk saat ini masih bertahan mas, tapi untuk 19 hari kalau seperti ini terus mungkin jalan satu-satunya mengurangi karyawan,” tambahnya.

Trimo mengaku kaget adanya petugas gabungan yang menertibkan para penjual. Dirinya menerima SE Bupati terkait PPKM Darurat baru sore ini, sedangkan SE dari Dindagkop Blora  diterima malam hari.

“Kaget mas, soalnya mereka datang ratusan anggota. PPKM darurat surat pemberitahuannya baru masuk jam 16.36 WIB yang SE Bupati, sedang surat dari Dindagkop jam 20.44. Semua hari, cuma beda jam. Ya mungkin karena minimnya petugas kantor atau apa kurang faham mas. Gerobak saya tadi udah siap derek (tutup), disemprot desinfektan. Ada juga salah satu pedagang yang emosi dan membuang makanan yang tidak habis,” ucapnya.

“Soalnya kami belum bisa menerapkan take away atau bungkus makanan dan minuman, mereka tetap memilih makan dan minum di lokasi. Sudah kami coba online kan dan hasilnya minim, tidak ada pembeli yang minta antar di rumah,” lanjutnya.

Meski demikian, dirinya menyadari dan mengaku pasrah lantaran mencari nafkah di atas lahan milik pemerintah.

“Soalnya sudah aturan dari negara/pemerintah, pokoknya mengikuti karena kerja di atas lahan pemerintah,” tandasnya.

Sementara itu, Johan salah satu pedagang di lapangan Kridosono  sebelah timur mengaku tidak berjualan lantaran omsetnya sepi.

“Saya libur mas, jualan dibubarkan terus. Sekarang jualan jam 7 baru ada pembeli, jam 8 sudah disuruh tutup, kan sama saja bohong. Hanya lelah mendorong gerobak saja, padahal untungnya tidak seberapa,” kata Johan melalui kontaknya. (ADY/Red)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Hot News

Wakil Ketua DPRD Blora Hadiri Temu Petani Tebu Blora dengan Pendiri Pabrik Gula Rembang

BLORA — Dalam acara temu kangen, seorang pengusaha Kamajaya yang dulu membidani Pabrik Gula (PG) Blora bertemu dan berdialog de...

Public Service

Blog Archive

Social Media

Technology

Next More »

Labels

Community

Next More »