𝗕𝗟𝗢𝗥𝗔 (SEPUTARBLORA.MY.ID) — Pemerintah Kabupaten Blora Jawa Tengah menjadikan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai ajang spiritual sekaligus pelestarian kearifan lokal, menggelar acara ruwatan massal. Hadir Bupati Blora dalam acara ruwatan massal tahun 1448 H / 2026 M di stadium budaya Tirtonadi Blora, Sabtu 11 Juli 2026.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Blora, Arief Rohman menyampaikan apresiasinya atas terselenggara acara yang menjadi ajang nguri-uri, melestarikan budaya daerah. Rangkaian kegiatan ini berlangsung semarak dengan suguhan berbagai kesenian kebanggaan masyarakat Blora, mulai dari seni barongan, wayang kulit, hingga tari tayub.
"Saya mengapresiasi dan berterima kasih atas terselenggaranya acara ruwatan massal 2026 ini untuk nguri-uri budaya. Ini dimaksudkan sebagai doa bersama agar Blora senantiasa terhindar dari musibah, diberikan kelancaran, kemakmuran, dan menjadi kabupaten yang maju serta berkah," ujar Bupati Blora.
Bupati Blora menegaskan bahwa acara ini menjadi tonggak penting pelestarian budaya ditengah derasnya arus globalisasi yang perlahan mulai menggeser eksistensi budaya lokal. Diperlukan upaya bersama dari seluruh elemen masyarakat untuk menjaga erat identitas budaya Blora.
"Kita terus berupaya agar budaya dan kesenian kita selalu dilestarikan. Ini menjadi kekuatan sekaligus khasanah kekayaan kita bersama," tegas Bupati Blora.
Warga Jepang hingga Papua
Sementara itu, Ketua Panitia Ruwatan Massal 2026, Edi Purwanto menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat dalam mengikuti tradisi ini terbilang sangat tinggi, tahun ini, ruwatan diikuti oleh 40 keluarga sukerta dengan total peserta mencapai kurang lebih 81 orang,
peserta terjauh yang hadir langsung di lokasi berasal dari Yogyakarta dan Pekalongan.
"Terdapat juga peserta ruwatan yang berasal dari Kota Chiba (Jepang) dan Merauke (Papua), namun mereka berhalangan hadir langsung karena terbentur tugas," ungkap Edi Purwanto.
Lebih lanjut, Edi Purwanto mengatakan bahwa ruwatan ini sarat akan makna dan nilai, selain sebagai upaya pelestarian seni budaya, ritual ini merupakan bentuk doa dan ikhtiar untuk memohon keselamatan serta menjauhkan diri dari sukerto atau sengkala (marabahaya/kesialan). Ia berharap kedepan tradisi ruwatan massal ini bisa menjadi agenda rutin yang terus dilestarikan oleh masyarakat Blora.
"Harapannya acara ruwatan ini bisa dilaksanakan rutinan setiap tahun. Mungkin kedepannya bisa dikembangkan dengan lokasi dan kemasan yang berbeda mengikuti perkembangan zaman, namun tanpa menghilangkan esensi utamanya," tandas Edi Purwanto. (Humas/Redaksi)






0 comments:
Post a Comment